Kuinmas.com-Sukabumi, Di Usia 60 Tahun, Pak Mohan Masih Bertahan di Panas Jalanan Nagrak-Cibadak, Mohan : Tak Usah Tak Bisa Makan.

Sukabumi - Matahari siang menusuk kulit, tapi langkah Pak Mohan tak berhenti. Di pinggir Jalan Alternatif Nagrak-Cibadak, di atas karung putih kusam, tersusun rapi dagangannya. Tidak banyak. Tapi itulah satu-satunya cara dia bertahan hidup.

Namanya Mohan. Umurnya 60 tahun. Bagi warga yang tiap hari melintas, sosoknya sudah akrab. Selalu tersenyum, selalu menyapa.  

Tapi di balik senyum itu, ada 25 tahun perjuangan yang tak pernah benar-benar lega.

“Saya sudah dagang di Sukabumi sejak muda. Dulu masih lumayan. Sekarang... buat makan sehari-hari saja susah,” katanya pelan.

Kalau Berhenti, Tak Ada Nasi di Meja

Pak Mohan adalah pedagang keliling. Apa saja yang bisa dijual, dia jual.  

Tujuannya sederhana, biar hari ini dan besok bisa makan kenyang.

“Di tengah ekonomi yang susah begini, saya nggak bisa berhenti. Kalau berhenti, nggak makan,” ujarnya, dengan suaranya tercekat.

Seharusnya di usia 60 tahun, orang sudah duduk di teras rumah, bercanda dengan cucu, menikmati hasil kerja puluhan tahun. Tapi Pak Mohan masih harus berjalan dari pagi, siang, sore, sampai malam. Kakinya sudah letih. Badannya tak sekuat dulu. Tapi menyerah? Itu bukan pilihan.

Rumah? Hanya Numpang Hati Teman

Tujuh tahun lalu, pernikahan 15 tahunnya kandas. Ekonomi yang berat merenggut lebih dari sekadar uang, ia kehilangan rumah, kehilangan tempat pulang. Sejak itu, Pak Mohan hidup numpang di tempat rekan sesama pedagang.

“Alhamdulillah masih ada teman yang mau menampung. Kalau ngontrak, saya nggak sanggup,” katanya sambil menunduk.

Yang lebih pahit, selama ini ia belum pernah tersentuh bantuan pemerintah.  

Mungkin namanya belum masuk data. Mungkin ia terlalu kecil untuk terlihat.  

Padahal hidupnya jauh dari kata layak.

Harapan yang Tak Muluk-Muluk

Ketika ditanya apa yang ia inginkan di usia senja, Pak Mohan hanya diam sebentar. Ia tak minta rumah mewah. Tak minta uang banyak. “Cuma tiga hal,” katanya. 

“Bantuan modal biar dagangan saya bisa berkembang. Jaminan kesehatan kalau sakit datang. Dan... punya rumah kecil saja, satu petak cukup. Buat berteduh dari panas dan dinginnya malam,” ujarnya.

“Saya sudah tua. Nggak minta muluk-muluk. Cuma ingin hidup tenang di akhir usia, punya tempat pulang yang bener,” tuturnya.

Potret yang Sering Kita Lewatkan

Kisah Pak Mohan bukan kisah satu orang. Dia adalah wajah ribuan lansia di luar sana yang masih harus bertarung dengan waktu, tenaga, dan perut kosong.  

Di saat banyak orang menikmati masa pensiun, mereka masih harus membanting tulang di jalanan yang bising dan penuh sesak.

Kita sering menyebut mereka “kuat”.  

Tapi mungkin, yang lebih tepat adalah, mereka tidak punya pilihan lain.


Robbi D